Bulan Desember 2009, dunia politik Indonesia kembali tersentak. Adalah George Junus Aditjondro sebagai pemicunya. Akibat buku “Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century” yang ditulisnya, George Junus Aditjondro menggegerkan konstelasi politik nasional. Pasalnya, buku yang diterbitkan Galang Press Jogjakarta dan diluncurkan pada 23 Desember 2009 ini, sengaja mengungkap borok ‘Kerajaan’ Ciekas, tempat Presiden SBY.
Buku Membongkar Gurita Cikeas setebal 183 halaman ini didahuli dengan kata pengantar yang menyatakan bahwa penulis tidak bermaksud menyerang lingkaran keluarga Cikeas. Meski demikian, ini sebagai bentuk kepedulian penulis terhadap kinerja pemerintah SBY agar memberantas KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) tanpa tebang pilih. Add a comment


Ada yang ganjil ketika buku Pejuang dan Prajurit karya Nugroho Notosusanto terbit tahun 1984. Wajah Soekarno tak tampak dalam foto pengibaran Merah-Putih, 17 Agustus 1945. Hanya wajah Bung Hatta yang kelihatan. Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo menelepon penerbit Sinar Harapan. Menurut dia, tindakan itu merupakan penggelapan sejarah. Hanya pada edisi berikutnya, wajah Soekarno muncul kembali. Hingga hari ini tidak diketahui apa motifnya: upaya de-Soekarnoisasi, ataukah wajah Soekarno yang terbuang tanpa sengaja ketika penerbit memperbesar foto?